Spirit Menyala di Bandung, Seruan dan Bakar Semangat Pelayan Tuhan
Spirit Menyala di Bandung, Seruan dan Bakar Semangat Pelayan Tuhan
Bandung – Suasana haru, refleksi rohani, hingga semangat pelayanan yang membara mewarnai rangkaian kegiatan hari ketiga Konferensi Penginjilan Nasional 2026 di Bandung. Sejak pagi hari, para peserta sudah larut dalam momen perenungan yang menggugah hati, seolah diingatkan kembali pada panggilan awal mereka melayani Tuhan.
Devosi yang dipimpin Ketua Sinode Gereja Kasih Karunia Indonesia, Pdt. Dr. Marthinus G. Radja, menjadi titik awal yang menyentuh batin para peserta. Dalam renungan bertajuk “Api Injil yang Tak Pernah Padam”, ia mengajak setiap pelayan Tuhan untuk menjaga iman seperti api di mezbah yang harus terus menyala tanpa henti.
“Iman bukan sekadar aktivitas pelayanan, tetapi harus hidup dalam karakter, keluarga, dan setiap keputusan yang kita ambil,” tegasnya di hadapan ratusan peserta yang mengikuti devosi dengan penuh kekhusyukan.
Pesan tersebut terasa begitu kuat. Banyak peserta tampak terdiam dalam refleksi, sebagian bahkan menitikkan air mata saat diingatkan bahwa panggilan pelayanan bukanlah perjalanan yang mudah, melainkan proses pembentukan iman yang menuntut kesetiaan total.
Radja juga menegaskan bahwa keluarga adalah fondasi pelayanan yang tidak boleh diabaikan. Menurutnya, keharmonisan hubungan suami, istri, dan anak menjadi cerminan nyata kehidupan rohani seorang pelayan Tuhan.
Semangat rohani yang telah dibangun dalam devosi semakin dipertegas dalam sesi pembekalan pelayanan yang disampaikan Pdt. Dr. Ir. Yonathan Wiryohadi. Dalam paparannya, ia mengingatkan bahwa gereja tidak boleh hanya berdiri sebagai simbol spiritual, tetapi harus hadir membawa perubahan nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, gereja masa kini dituntut untuk lebih adaptif, relevan, dan berani menjawab persoalan sosial di tengah masyarakat. Ia menekankan bahwa pelayanan gereja harus menyentuh kehidupan nyata, mulai dari pendidikan, kesejahteraan sosial, hingga pembinaan generasi muda.
“Gereja tidak cukup hanya menjadi tempat ibadah. Gereja harus menjadi terang yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya dengan penuh penekanan.
Pernyataan tersebut disambut antusias para peserta. Banyak yang terlihat mencatat dengan serius, sementara lainnya mengangguk memahami tantangan besar pelayanan gereja di era modern.
Hari ketiga konferensi itu pun terasa menjadi momentum spiritual yang kuat. Tidak hanya memperlengkapi peserta dengan wawasan pelayanan, tetapi juga mengobarkan kembali api panggilan yang mungkin sempat meredup karena tekanan pelayanan, kesibukan hidup, maupun pergumulan pribadi.
Konferensi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, melainkan menjadi titik balik lahirnya gerakan penginjilan yang lebih berani, relevan, dan menyentuh kehidupan masyarakat secara nyata.
Bagi banyak peserta, Bandung bukan sekadar lokasi konferensi. Kota itu menjadi saksi bagaimana panggilan pelayanan diperbarui, iman diteguhkan, dan semangat Injil kembali dinyalakan untuk dibawa pulang ke daerah pelayanan masing-masing.
jurnal Romo Kefas
Share this content:




Post Comment