DI KEJADIAN SEHARI-HARI BOGOR, ROMO KEFAS LIHAT TOLERANSI YANG NYATA
“DI KEJADIAN SEHARI-HARI BOGOR, ROMO KEFAS LIHAT TOLERANSI YANG NYATA”
Bogor, 28 Desember 2025 – Tidak perlu mencari contoh besar tentang toleransi di Bogor. Menurut Romo Kefas, yang nyata ada di kejadian sehari-hari: tetangga yang saling bantu, tempat ibadah yang berdampingan, dan orang yang berbagi kopi tanpa peduli latar belakang.
Di warung kopi di Jalan Cibeunying (yang selalu ramai sore hari), dia menyampaikan ini sambil melihat orang-orang berdatangan. “Kalau mau lihat toleransi yang sebenarnya, cuma lihat di sekitar kita. Di sini, orang bisa duduk bareng meskipun berbeda – itu yang paling penting.”
Romo Kefas menyebutkan Masjid Agung Bogor dan Gereja Katolik Santo Yoseph yang berdampingan di dekat Alun-Alun sejak tahun 1900-an. “Dua tempat itu sudah ada lama, tapi tidak pernah ada masalah. Di kawasan Taman Kencana juga ada Musholla dan Gereja Protestan yang damai berdampingan. Ini bukan hal istimewa di Bogor – ini biasa.”
“Kebebasan beragama yang tertuang di UUD 1945 dan putusan MK 2014 itu jadi dasar, tapi di Bogor, kita lakuinnya sehari-hari – hormati tempat ibadah orang lain, dan jangan ganggu ibadah mereka.”
Menanggapi putusan MK tentang pendidikan dasar gratis, dia menyebut program Dinas Kebudayaan Kota Bogor “Budaya Bersama di Kelas” yang mulai berjalan Januari 2025. “Akses sekolah yang banyak bagus, tapi kita ajarin anak-anak tentang kebudayaan Sunda dan cara berbagi dengan teman yang berbeda – misalnya, ajarkan mereka cerita Si Kabayan yang mengajarkan gotong royong.”
Data survei IPMJB Juli 2025 untuk Bogor menunjukkan: 82% siswa yang mengikuti program ini lebih suka bermain dengan teman beda latar belakang. “Bisa aja dengan acara ‘Bagi Makanan Tradisional’ – anak-anak bawa bubur ayam Bogor, rendang, atau arsik dan berbagi. Itu cara mereka belajar bahwa perbedaan itu menyenangkan.”
Sebagai penggiat budaya, dia melihat gotong royong di Bogor sebagai bukti toleransi yang hidup. “Setiap bulan, hampir semua lingkungan di Bogoradakan gotong royong – membersihkan saluran air, merawat taman, atau membuat acara silaturahmi. Kalau ada tetangga yang sakit, semua bantuin – itu yang bikin masyarakat tetap rukun.”
Menurut laporan Dinas Pemerintahan Setempat 2025, jumlah gotong royong di kota meningkat 30% dibanding 2024 – tanda bahwa kebiasaan “bersama” masih kuat.
Saat mau pulang, Romo Kefas tinggalkan pesan sederhana: “Toleransi tidak perlu dibuat rumit. Cuma jaga kebiasaan sehari-hari kita di Bogor – saling sapa, bantu tetangga, berbagi kopi. Begitu aja, kota ini akan tetep damai dan nyaman seperti yang kita kenal.”
Share this content:




Post Comment