Gereja Bisa Megah, Tapi Tanpa Misi Bisa Kehilangan Arah!” Teguran Tajam Pdt. Dr. Bambang Widjaja di KPN 2026
“Gereja Bisa Megah, Tapi Tanpa Misi Bisa Kehilangan Arah!” Teguran Tajam Pdt. Dr. Bambang Widjaja di KPN 2026
Bandung – Peringatan keras tentang arah pelayanan gereja disampaikan Pdt. Dr. Bambang Widjaja, Ketua STT INTI, dalam rangkaian pembekalan misi Konferensi Penginjil Nasional (KPN) PGLII 2026. Dalam penyampaiannya yang lugas dan penuh tekanan rohani, ia menegaskan bahwa gereja berpotensi kehilangan jati diri jika melupakan mandat penginjilan.
Di hadapan ratusan hamba Tuhan dari berbagai daerah di Indonesia, Pdt. Bambang mengingatkan bahwa panggilan gereja sejak awal adalah menjangkau seluruh bangsa dan suku bangsa. Ia menegaskan bahwa misi bukan sekadar program tambahan, tetapi fondasi utama pelayanan gereja.
Ia menjelaskan bahwa pelayanan misi mencakup seluruh manusia tanpa batas budaya. Mengacu pada istilah Alkitabiah, ia menyebut “goyim” sebagai gambaran seluruh bangsa dan “uma” sebagai gambaran seluruh kelompok suku bangsa yang menjadi sasaran pelayanan gereja.
Dalam pemaparannya, Pdt. Bambang memaparkan strategi pelayanan penginjilan melalui pendekatan E0 hingga E3. Ia menjelaskan bahwa E0 menargetkan orang Kristen yang hanya berstatus administratif, E1 menjangkau mereka yang belum mengenal Kristus tetapi masih dalam latar budaya yang sama, E2 menjangkau kelompok lintas suku dengan perbedaan budaya yang tidak terlalu jauh, sedangkan E3 merupakan pelayanan misi lintas budaya yang memiliki tantangan paling besar.
Pdt. Bambang secara terbuka menyoroti kecenderungan gereja yang dinilai lebih fokus pada pembangunan fasilitas dibandingkan pelayanan misi. Ia menegaskan bahwa gereja harus mampu membedakan antara hal yang bersifat hakiki dan hal yang hanya bersifat pilihan.
Menurutnya, penginjilan merupakan bagian esensial pelayanan gereja yang tidak dapat digantikan oleh fasilitas pendukung. Ia menilai berbagai sarana ibadah, teknologi pelayanan, maupun kenyamanan fasilitas gereja hanyalah bagian tambahan yang bersifat opsional.
Dalam penyampaian yang memicu refleksi peserta, ia menilai sebagian besar gereja saat ini lebih sibuk mengembangkan aspek pendukung pelayanan dibandingkan menjalankan misi penginjilan sebagai panggilan utama gereja.
Ia juga menekankan pentingnya tiga kekuatan utama dalam pelayanan misi gereja yang dikenal sebagai konsep 3D, yaitu doa sebagai kekuatan spiritual, dana sebagai dukungan pelayanan, serta daya sebagai tenaga penggerak pelayanan penginjilan.
Mengutip Mazmur 117:2 dan Wahyu 7:9, Pdt. Bambang menegaskan bahwa visi pelayanan gereja adalah menjangkau seluruh bangsa, suku, dan bahasa sebagai gambaran panggilan universal gereja dalam memberitakan Injil.
Penyampaian materi tersebut menjadi salah satu sesi yang paling menyita perhatian peserta KPN PGLII 2026. Banyak pelayan Tuhan terlihat serius mengikuti setiap pemaparan yang disampaikan sebagai bahan evaluasi pelayanan gereja di daerah masing-masing.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kekuatan gereja bukan terletak pada kemegahan bangunan atau kelengkapan fasilitas, melainkan pada kesetiaan gereja menjalankan mandat penginjilan.
Jurnalis: Romo Kefas
Share this content:




Post Comment