“Saya Tidak Melihat Ambisi Jabatan. Saya Melihat Tanggung Jawab.”
“Saya Tidak Melihat Ambisi Jabatan. Saya Melihat Tanggung Jawab.”
Kesaksian Kuat Fredrik tentang Sosok Ahmad Fikri Assegaf
Jakarta – Dalam keterangannya kepada media, Fredrik J. Pinakunary tidak berbicara dengan nada kampanye. Ia berbicara dengan nada perenungan.
Dua hari perjalanan bersama ke Medan pada 14–15 November 2025, menurutnya, membuka pemahaman yang lebih dalam tentang sosok —bukan hanya sebagai profesional hukum, tetapi sebagai pribadi yang siap memikul beban organisasi.
“Selama ini orang melihat reputasinya. Saya melihat cara berpikirnya,” ujar Fredrik tegas.
Pemimpin yang Dibentuk oleh Kegelisahan, Bukan Ambisi
Publik tahu Fikri sebagai pendiri . Publik juga tahu kiprahnya melahirkan bersama almarhum —sebuah terobosan yang mengubah wajah akses informasi hukum di Indonesia.
Namun menurut Fredrik, yang paling penting bukanlah besar kecilnya institusi itu, melainkan alasan di balik kelahirannya.
“Hukumonline tidak lahir dari ambisi memperbesar nama. Ia lahir dari kegelisahan karena advokat kesulitan mendapatkan regulasi terbaru. Itu respon terhadap masalah nyata,” katanya.
Bagi Fredrik, di situlah terlihat karakter kepemimpinan: tidak reaktif, tidak emosional, tetapi sistemik dan solutif.
Integritas yang Terlihat dalam Hal Kecil
Fredrik menekankan bahwa integritas bukan hanya soal reputasi publik, tetapi konsistensi dalam hal-hal sederhana.
“Beliau tidak pernah menempatkan diri sebagai pusat cerita. Dalam dua jam percakapan di pesawat, justru beliau yang banyak bertanya tentang keluarga saya, tentang kehidupan. Itu bukan basa-basi. Itu ketulusan.”
Tidak ada aura ingin diagungkan. Tidak ada kesan ingin diperlakukan istimewa. Kesederhanaan itu, menurut Fredrik, bukan strategi, tetapi karakter.
Visi Besar, Ego Terkendali
Dalam keterangannya, Fredrik menyampaikan satu kalimat yang menjadi penekanan kuat:
“Beliau punya kapasitas memimpin organisasi besar, tapi tidak membawa ego besar.”
Ia melihat bagaimana Fikri membangun institusi dengan fondasi manajerial yang kuat—menciptakan sistem, bukan ketergantungan pada figur. Itu sebabnya AHP tumbuh solid. Itu sebabnya Hukumonline bertahan dan berkembang.
“Pemimpin sejati membangun agar organisasi bisa berjalan bahkan tanpa dirinya,” ujar Fredrik.
Bukan Soal Popularitas, Tapi Soal Arah
Di tengah dinamika organisasi advokat, Fredrik mengingatkan bahwa memilih pemimpin bukan soal siapa yang paling keras bersuara.
“Organisasi sebesar ini tidak boleh dipimpin oleh emosi sesaat. Ia harus dipimpin oleh orang yang terbiasa berpikir jangka panjang.”
Baginya, perjalanan itu bukan sekadar agenda. Itu adalah momen penyadaran.
“Saya tidak melihat seseorang yang mengejar jabatan. Saya melihat seseorang yang siap bertanggung jawab.”
Dan dalam pernyataannya kepada media, Fredrik menutup dengan kalimat yang menggugah:
“Kita tidak sedang memilih figur untuk lima menit tepuk tangan. Kita sedang memilih arah untuk lima tahun ke depan.”
jurnalis Romo Kefas
narasumber Fredrik J Pinakunary
Share this content:




Post Comment