GGP Gaspol Abad Kedua: Sejarah Dikunci, Target 1.500 Jemaat Diumumkan
GGP Gaspol Abad Kedua: Sejarah Dikunci, Target 1.500 Jemaat Diumumkan
Bogor – Dua hari lokakarya di GGP Immanuel Bogor menjadi lebih dari sekadar forum sejarah. Di balik penelusuran ulang pelayanan Rev. Johannes Gerhard Thiessen, Sinode Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) mengunci arah baru: pertumbuhan masif menuju 1.500 jemaat nasional.
Forum yang menghadirkan jajaran pimpinan sinode dan para akademisi gereja itu awalnya membedah perjalanan Papa Thiessen—dari pelayanan awal di Sumatera hingga tonggak kebangunan rohani 29 Maret 1923 di Cepu. Arsip kolonial, referensi lintas negara, dan dokumen gereja disandingkan untuk memastikan sejarah tersusun utuh dan tidak lagi terpotong.
Namun momentum terbesar justru lahir dari kesimpulan strategis. Sinode menegaskan visi “Threefold”—bertumbuh tiga kali lipat sebagai kekuatan di semua lini pelayanan. Targetnya konkret: 1.500 jemaat di seluruh Indonesia sebagai fondasi pergerakan abad kedua.
Visi tersebut tidak hanya berbicara soal angka, tetapi konsolidasi kepemimpinan, perintisan jemaat baru, penguatan generasi muda, serta kemandirian pelayanan melalui prinsip Swa Dana, Swa Daya, dan Swa Praja.
Jika abad pertama adalah fase bertumbuh dan bertahan, maka abad kedua disebut sebagai fase akselerasi. Dari percikan kebangunan rohani 1923, GGP kini menyiapkan gelombang nasional.
Sejarah telah dipetakan. Arah telah ditegaskan. Dan target 1.500 jemaat menjadi penanda bahwa GGP memasuki babak baru dengan strategi, bukan sekadar nostalgia.
Share this content:




Post Comment