Di Tengah Dinamika Internal, Loka Karya 2 di Cimahi Perkuat Fondasi Historis GGP
Di Tengah Dinamika Internal, Loka Karya 2 di Cimahi Perkuat Fondasi Historis GGP
Cimahi – Berbeda dari narasi yang beredar luas di media sosial, Loka Karya 2 Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) di Cimahi, Sabtu (21/2/2026), tidak diarahkan pada perdebatan, melainkan pada konsolidasi data dan pendalaman sejarah secara akademik. Hingga berita ini diturunkan, forum masih berlangsung dengan suasana diskusi yang terbuka dan argumentatif.
Mengusung tema “Semakin Jelas”, kegiatan ini diposisikan sebagai forum ilmiah untuk mengumpulkan, menguji, dan menyelaraskan berbagai temuan sejarah pelayanan—mulai dari era awal Papa Thiesen hingga perkembangan GGP modern.
Ketua Umum GGP, Pdt. Dicky Suwarta, M.Th, hadir bersama Ketua Tim Sejarah GGP sekaligus Ketua STT Kadeshi, Pdt. Dr. Timotius Sukarna. Turut menjadi narasumber, Pdt. Dr. Harapan Nainggolan, M.Th selaku Pembimas Kristen Provinsi Jawa Barat, serta Pdt. Dr. Michael Sonny Suryawan yang dikenal sebagai peneliti sejarah gerakan Pentakosta.
Forum ini juga diikuti unsur Majelis Pusat (MP), Majelis Daerah (Mada), Majelis Wilayah (Mawil), Majelis Jemaat (Majem), para pendeta, pimpinan lembaga teologi, dan insan GGP dari berbagai daerah.
Data Baru Perjalanan Papa Thiesen
Salah satu pembahasan utama adalah periode 1887–1921. Dalam pemaparan terbaru, disebutkan Papa Thiesen tiba di Pakantan pada akhir 1899 melalui Padang. Ia menempuh perjalanan sekitar 350 kilometer dengan berjalan kaki dan ditandu melewati medan berat.
Pelayanan aktif dimulai awal 1900, didukung guru-guru lulusan Seminari Depok dan Seminari Pansurnapitu. Rencana pendirian gereja, rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah zending menjadi bukti bahwa pelayanan awal memiliki pendekatan sosial dan pendidikan yang kuat.
Paparan ini dinilai penting untuk memperkaya dokumentasi resmi dan menghindari penyederhanaan sejarah.
Pelurusan Fakta Azusa Street
Pada sesi berikutnya, dibahas konteks gerakan Pentakosta global periode 1921–1960. Salah satu poin krusial adalah klarifikasi mengenai lokasi kebangunan rohani Azusa Street 1906.
Dalam forum ditegaskan bahwa bangunan yang kini dikenal sebagai “Azusa Street Prayer Tower” bukanlah lokasi fisik asli peristiwa tersebut. Lokasi awal berada di 312 Azusa Street, tempat William J. Seymour berkhotbah, dan bangunan itu telah lama diruntuhkan.
Bagi peserta, pelurusan ini menjadi contoh bahwa simbol historis perlu diverifikasi agar tidak bergeser dari fakta dokumenter.
Menata Narasi GGP Modern
Pembahasan juga menyentuh perkembangan GGP periode 1960–2026, mencakup penguatan struktur organisasi, ekspansi pelayanan, serta tantangan gereja dalam menghadapi perubahan sosial dan teknologi.
Panitia menyebutkan hasil diskusi akan dirumuskan menjadi bahan dokumentasi resmi. Dengan pendekatan berbasis data dan dialog terbuka, Loka Karya 2 di Cimahi diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi langkah konkret memperkuat fondasi historis GGP bagi generasi berikutnya.
Alih-alih memperuncing perbedaan, forum ini justru menegaskan bahwa sejarah yang dirawat bersama akan menjadi titik temu, bukan titik pisah.
jurnalis Romo Kefas
Share this content:




Post Comment