Bincang Hangat Muhammad Rafiq: : MBG Bukan Sekadar Makan Gratis, Tapi Mesin Ekonomi Rakyat
PONTIANAK – spasinews.com
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti bukan sekadar bagi-bagi makanan gratis. Lebih dari itu, program ini merupakan instrumen strategis pemerintah untuk menggenjot kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sekaligus menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat yang menyentuh hingga ke pelosok pedesaan.
Owner MBG Godang Priok, Muhammad Rafiq,S.Pd dalam bincangnya dia menegaskan bahwa MBG adalah kunci pemerataan ekonomi. Jika sebelumnya pertumbuhan ekonomi nasional cenderung hanya dinikmati segelintir kalangan, kini arus ekonomi tersebut mengalir langsung ke masyarakat lapisan bawah.
“MBG Bukan Sekadar Makan Gratis bagi bagi makanan, tapi sebagai alat bantu pemerintah daerah dan dunia pendidikan untuk meningkatkan sumber daya manusia, yang sebelumnya pertumbuhan ekonomi nasional hanya dirasakan oleh kalangan tertentu, kiri pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat kalangan bawah di pedesaan,” ujar Rafiq Minggu (5/4) di Pontianak.
Rafiq memaparkan bahwa keberadaan MBG menjadi alat bantu vital bagi ekosistem pendidikan. Kehadiran makanan bergizi di sekolah secara nyata meningkatkan antusiasme dan fokus siswa dalam menyerap materi pelajaran.
Hal ini sangat dirasakan oleh siswa dari keluarga kurang mampu atau mereka yang hidup sebatang kara.
Dia menceritakan, tak sedikit siswa yang sebelumnya terpaksa bersekolah dalam kondisi lapar akibat kendala ekonomi. Kondisi ini jelas menghambat proses belajar siswa dan proses mengajar guru.
Namun, setelah hadirnya program MBG kini mereka tidak lagi terbebani pikiran tentang apa yang akan dimakan saat lapar, sehingga konsentrasi sepenuhnya tertuju pada penjelasan guru.
Lebih jauh, Muhammad Rafiq mengingatkan pentingnya menjaga keberlangsungan program ini. Menurutnya, jika MBG terhenti maka dampak negatifnya akan sangat masif terhadap ekosistem lokal.
Tercatat ada sekitar 3.000 orang tua siswa yang akan mengalami gangguan finansial serius, serta puluhan relawan dan pelaku UMKM yang akan kehilangan sumber penghidupan.
“Ada 50 orang relawan akan hilang penghasilannya, pedagang kecil, UMKM, dan yang lainnya akan hilang penghasilannya, untuk itu kita jaga dan tingkatkan terus demi kepentingan orang banyak, kita dukung untuk membuat MBG lebih baik, apabila ada kekurangan dari dapur MBG maka segera laporkan selesaikan dengan musyawarah untuk memberikan saran dan masukan tentu sangat dibutuhkan agar manfaat dari dapur MBG terus ditingkatkan”, ungkapnya.
Selain menciptakan ekonomi sirkular dengan melibatkan petani dan peternak lokal, dapur produksi MBG juga menjadi tumpuan hidup bagi banyak tenaga kerja. Program ini membuka lapangan kerja bagi orang tua dan anak muda dari kalangan prasejahtera, sehingga mereka perlahan mampu memperbaiki ekonomi dan melanjutkan pendidikan yang mungkin sempat terhambat.
Rafiq mengajak semua pihak untuk menjaga program ini melalui musyawarah dan masukan yang membangun, demi memastikan masa depan generasi penerus bangsa tetap terjamin di bangku sekolah.(*/zainul irwansyah).
Share this content:




Post Comment